Thursday, November 11, 2010

Anda Lebih Takut Gagal atau Lebih Takut Mencoba

Posted by Kresno Setyoputro On 9:26 PM | No comments
Jika anda dihadapkan pada pertanyaan diatas, kira-kira apa jawaban anda? Dimanakah anda dapat digolongkan? Apakah anda adalah orang yang takut gagal, atau takut mencoba? Kalau diri saya pribadi, jujur saja saya lebih takut gagal. Tetapi saya tidak terpengaruh oleh rasa takut gagal saya tersebut, dan saya tetap harus memberanikan diri saya untuk mencoba suatu hal yang baru. Karena sedikit banyak, kita pasti mempelajari sebuah hal yang baru ketika kita mencoba hal yang baru. Coba anda bayangkan kalau saja anda takut untuk mencoba hal yang baru bagi anda. Anda tidak akan mendapat suatu pelajaran dan pengalaman yang baru. Memang, kita tidak bisa mengetahui dengan pasti hasil yang kita dapat setelah kita mencoba hal yang baru bagi kita. Tetapi setidaknya jika anda mempelajari hal yang baru, anda pasti mendapatkan pengetahuan atau bahkan ilmu yang baru, meskipun anda gagal dalam percobaan anda tersebut.

Apakah anda takut gagal? Sedemikian takutnya sampai anda tidak berusaha untuk mencoba? Coba anda pikirkan kembali, hal tersebut benar-benar tidak masuk akal. Dengan tidak mencoba barang satu kalipun, sebenarnya anda SUDAH gagal. Jadi rasa takut gagal adalah penyebab kegagalan yang pasti.

Apakah anda merasa takut? Coba perhatikan rasa takut anda. Perhatikan pesan yang berusaha disampaikannya. Rasa takut membuat anda lebih waspada. Rasa takut memberi energi ekstra. Rasa takut membuat anda mampu mengatasi tantangan tersulit. Tidak ada yang mampu mendorong sumber daya dalam diri anda, lebih dari rasa takut.

Rasa takut sebenarnya ada untuk mendorong anda maju, bukan untuk menahan anda. Biarkan rasa takut mengajarkan anda. Biarkan rasa takut mempersiapkan anda. Tetapi jangan membuat rasa takut menghentikan anda. Saat rasa takut menahan anda, coba perhatikan baik-baik apa yang menyebabkan rasa takut, dan anda akan menemukan alasan untuk bergerak maju.

Kegagalan paling abadi adalah kegagalan untuk mulai bertindak. Bila anda sudah mencoba dan ternyata gagal, anda memperoleh sesuatu yang bisa dipelajari dan mungkin dicoba kembali. Anda tidak akan pernah gagal bila anda terus berusaha!

ORANG dewasa yang takut gagal ternyata berisiko lebih tinggi mengalami kegagalan di masa depannya. Para peneliti beranggapan penilaian terhadap risiko kegagalan harus mencakup upaya pencegahan, baik kegagalan nyata maupun yang baru dipikirkan. Penelitian itu melibatkan 500 orang di Sydney, Australia, berusia 70-90 tahun, yang menjalani pemeriksaan medis dan neuropsikologi ekstensif.

                Para peneliti Australia dan Belgia itu menghitung risiko kegagalan peserta baik yang nyata maupun sebatas di pikiran. Peneliti memonitor mereka setiap bulan selama satu tahun. Hasilnya, baik risiko kegagalan nyata maupun yang dipikirkan, berkontribusi terhadap risiko seseorang jatuh di masa depannya.

Penelitian itu menyimpulkan orang dengan tingkat kecemasan tinggi akan kegagalan adalah mereka yang paling mungkin mengalami kegagalan.

TAKUT GAGAL DI MASA PERCOBAAN
Masa percobaan adalah masa-masa yang menegangkan bagi sebagian atau bahkan seluruh orang. Tetapi, jika kita bisa melewati masa percobaan tersebut dengan baik dan benar, kita pasti akan bangga dengan diri kita sendiri. Bagaimana tidak? Yang disebut dengan masa percobaan adalah suatu masa dimana segala sesuatu di pakai atau di jalankan untuk pertama kalinya. Jika manusia di coba untuk melakukan segala sesuatu yang baru bagi dirinya, pasti ia akan gugup dan nervous. Belum lagi jika pendapat saya ini diterapkan dalam contoh kasus di dunia kerja. Saya akan memberikan sebuah ilustrasi mengenai pendapat saya diatas.

                Terdapat seorang karyawan baru dengan jabatan kepala bagian di sebuah perusahaan asing. Minggu depan masa percobaan (3 bulan) karyawan tersebut akan habis. Di akhir masa percobaan, karyawan tersebut akan diputuskan untuk diterima sebagai karyawan tetap atau gagal. Selama masa percobaan ini karyawan itu mendapat tugas menyusun standar operating prosedur untuk pekerjaan-pekerjaan yang ada di bagian karyawan itu. Waktu itu ia meyanggupi bahwa semuanya akan selesai dalam waktu dua bulan (penugasan diberikan pada akhir bulan pertama). Karyawan tersebut sadar bahwa ia hanya sanggup menyelesaikan separuh dari tugas-tugas. Itu pun tidak sepenuhnya sempurna. Alasan utama, karena ada beberapa staff yang ternyata tidak menyukai karyawan tersebut dalam menjabat di posisi ini. Menurut kabar yang ia dengar, ada seorang staff yang berambisi betul dengan posisi ini. Mereka tidak setulusnya membantu karyawan tersebut. Selain itu, ada seorang staff yang tampaknya bisa di andalkan tetapi orang itu malah terserang penyakit typhus selama beberapa minggu. Padahal kaaryawan tersebut membutuhkan orang yang jatuh sakit tersebut untuk mengumpulkan beberapa informasi. Karyawan tersebut juga tidak bisa mengkomunikasikan hal ini dengan manajernya. Belakangan ini managernya sedang berada di luar negeri untuk banyak urusan. Sedangkan tugas-tugas managernya dilimpahkan pada kepala bagian lain. Sedangkan karyawan ini kelabakan harus melakukan apa. Kira-kira jalan apa yang terbaik bagi sang karyawan tersebut? Apakah karyawan tersebut harus menyerah dalam masa percobaannya? Jika anda berada di posisi karyawan yang sedang berada di dalam masa percobaan tersebut, apa yang akan anda lakukan?
 
Saya memiliki solusi untuk masalah diatas. Yang paling penting sekarang adalah anda akui anda gagal memenuhi penugasan itu. Bila anda berusaha mencari-cari alasan atas kegagalan itu, terlebih lagi menimpakannya pada orang lain dan situasi, itu hanya akan membuat daftar kegagalan anda semakin panjang. Jadi, hentikan mencari-cari alasan. Gunakan waktu satu minggu tersebut untuk menuntaskan tugas-tugas anda yang separuh jalan itu dengan baik. Jangan risaukan penilaian masa percobaan. Risaukan saja tugas-tugas anda yang tak selesai ini. Sekali lagi, stop kesibukan anda menyusun alasan kegagalan. Bila anda mengemukan sepuluh alasan, percayalah, atasan anda mempunyai dua puluh argumen untuk mematahkan alasan anda.

Kini mari buat "pengakuan" yang gentle atas kegagalan anda. Kemungkinan pertama, di saat anda menyepakati penugasan itu, anda bertindak terlalu optimis. Waktu satu bulan yang anda gunakan untuk mempelajari situasi kerja mungkin anda anggap cukup, namun sebenarnya banyak kemungkinan baru yang muncul tanpa anda duga-duga sebelumnya. Gairah yang menggebu-gebu sebagai karyawan baru bisa saja membuat anda tidak cukup realistis dalam menilai situasi. Anda juga bisa jadi tidak cukup realistis dalam menerima penugasan itu dan menyesuaikan dengan kemampuan anda sendiri. Untuk menangani hal ini, selesaikan tugas mana yang paling bisa anda selesaikan. Bersikaplah realistis bahwa anda tak mampu menangani semua. Namun, anda mampu menuntas sesuatu yang benar-benar anda kuasai. Sikap realistis menuntun anda untuk menyusun prioritas.

Mari kita lihat kemungkinan kedua, yaitu anda tidak cukup mampu mengendalikan pekerjaan anda secara efektif. Anda mungkin membiarkan anda dan anak buah anda bekerja tanpa sebuah perencanaan dan kontrol yang baik. Ada banyak sebab mengapa pengaturan ini tidak berjalan baik. Pertama, kepemimpinan anda belum cukup bisa diterima oleh bawahan anda. Bila ini yang terjadi, anda harus segera mengubah gaya kepemimpinan anda dan menyesuaikannya dengan situasi. Kedua, anda belum mampu menciptakan jaringan kerja dengan kolega anda dengan baik. Meski anda ketahui mereka tampak sibuk dengan tugas sehari-harinya, itu bukan berarti anda lantas boleh berdiam diri.

Anda harus bergerak menemui mereka. Ingat, anda adalah karyawan baru. Andalah yang semestinya bertindak aktif. Terlebih lagi, jabatan anda adalah kepala bagian yang tentu berbeda dengan staff biasa. Sebab ketiga, anda mudah terbiaskan oleh kasak-kusuk yang terjadi di bawahan anda. Keuntungan anda sebagai karyawan baru adalah anda tidak punya kepentingan atas kasak-kusuk itu. Ini semestinya membuat anda lebih merasa bebas dalam bertindak terhadap bawahan. Sebab keempat, cara kerja anda mungkin tidak sepenuhnya efektif. Coba pelajari, apakah anda mempunyai agenda dan skedul kerja, prioritas penyelesaian tugas, perlengkapan kerja, dan lain sebagainya. Bila ini masalahnya, maka segera susun prioritas baru. Anda bisa ajukan hal ini sebagai revisi atas penugasan anda. Sangat perlu bagi anda untuk menyusun rencana baru yang lebih realistis.
 
Kemungkinan ke tiga, anda tidak cukup berkesempatan melakukan komunikasi dengan atasan. Namun, ini bisa dibantah bahwa anda bisa saja menghubungi atasan anda meski beliau berada di luar negeri, tentu dengan catatan selama apa yang anda komunikasikan itu adalah sesuatu yang penting dan layak dibicarakan. Ada baiknya anda hubungi atasan anda secara langsung, dan bicarakan kemungkinan anda gagal atas penugasan ini. Ajukan rencana baru. Jangan sampai di saat anda menghadapi saat penilaian akhir masa percobaan kerja, anda berdiri sendiri. Kini, coba bangun pertahanan dengan atasan anda. Percayalah, atasan anda takkan berpikiran untuk menggantikan anda begitu saja. Bila ia melakukannya, ia harus kehilangan banyak waktu dan tenaga, kecuali ia berpikiran lain. Maka tunjukkan bahwa anda masih layak dipertahankan di sana, dengan segala kegagalan sekaligus kebangkitan baru yang lebih baik dan menjanjikan.

Kami tidak tahu bagaimana bisa membuat anda lolos dari lubang jarum penilaian masa percobaan ini. Namun kami percaya bila anda segera mengubah cara kerja; anda tidak lagi berusaha mencari alasan dan pembenaran atas kegagalan itu, serta menjalin komunikasi dengan atasan anda, maka atasan anda masih melihat prospek kebaikan dalam diri anda. Dan yang tak kalah penting: jangan takut tidak bisa melewati masa percobaan, namun takutlah bila anda tidak bisa membantu perusahaan ini lebih baik lagi. Bila anda memusatkan perhatian pada kepentingan perusahaan, maka perusahaan pun akan memberikan perhatian yang setimpal bagi anda. Selamat berjuang. Pantang mundur!

Selain dari solusi diatas, saya telah mempelajari tentang pertanyaan saya yang paling pertama, yaitu ‘anda lebih takut gagal atau lebih takut mencoba?’. Sebenarnya pertanyaan tersebut saling berhubungan antara pertanyaan yang pertama dengan pertanyaan yang kedua. Jika anda sudah takut mencoba, anda adalah termasuk orang yang SUDAH gagal. Tetapi jika anda sudah takut gagal terlebih dahulu, maka anda pasti tidak akan berani mencoba dan dengan otomatis anda telah menjadi orang yang gagal.

Terima tawaran yang diberikan kepada Anda
                                                  
Jangan takut mencoba hal baru hanya karena anda merasa belum mampu atau belum pernah melakukan hal tersebut. Lihatlah seorang aktor atau aktris yang selalu berani berganti peran. Trik jitu, selain melatih kemampuan beradaptasi, andapun bisa membantu mengatasi ketakutan anda terhadap hal-hal baru. Jangan takut mencoba hal baru itu akan memperkaya pengalaman dan wawasan anda. Semakin banyak pengalaman, semakin banyak pula pelajaran yang bisa anda petik. Ilmu dan pengalaman merupakan guru yang berharga bukan? Katakan “Ya” pada hal baru itu. Jika tidak, anda membangun tembok besar di depan langkah anda.

Untuk orang yang tertutup atau menutup diri, mengatakan “Ya” mungkin merupakan hal yang ekstrim

Aneh. Menakutkan. Itu karena mereka malu dan takut berubah. Mereka takut mencoba hal baru. Jika anda mengatakan “Ya” pada hal atau tidakan positif, maka “Ya” itu adalah energi besar yang bisa mengubah hidup anda. Itu mungkin hal baru. Jika tak anda terima, anda bisa menyesal. Bukankah tak ada kesempatan kedua yang persis seperti itu? Belajarlah dari pengalaman buruk yang pernah anda alami. Dari pengalaman buruk itu ada sesuatu yang baik bisa anda ambil. Misalnya saja, ketika anda sudah berkata “Ya” untuk sebuah pengalaman baru dan ternyata hasilnya mengecewakan, anda tidak perlu bersedih dan berkecil hati. Ambil hikmahnya dan berusaha lagi.
Ketika Anda mengatakan “Ya”, Anda harus berlaku menjadi orang lain

Orang yang lebih berani. Orang yang lebih percaya diri. Ketika anda takut melakukan sesuatu anggaplah bahwa anda adalah orang lain. Orang yang lebih kuat dan berani. Hal ini bisa menumbuhkan kebiasaan lebih berani lagi. Semakin sering anda melakukan sesuatu, lagi dan lagi, anda akan meningkatkan kebiasaan anda. Dari yang tidak pernah menjadi pernah, dari pernah menjadi sering, dan dari sering menjadi biasa. Setiap kali anda memaksa diri anda untuk melakukan sesuatu, anda menekankan diri anda untuk mengatakan, “Saya bisa melakukannya”.

“Apa mungkin Anda berani jika Anda takut bahwa sesuatu itu akan gagal?”

Pertanyaan ini adalah support. Mungkin anda akan mengatakan “Tidak”. Tapi sebaliknya berhentilah mengatakan “Tidak”.

Beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatakan “Ya”:

Mulailah dari hal-hal kecil

Sebagian orang takut menelepon orang lain atau memulai percakapan. Bahkan ada juga yang malu berbicara dengan orang asing, malas bertanya kepada pelayan di toko, tidak mau bertanya pada orang di jalan jika tersesat, dan lain-lain. Kalau anda ingin jalan anda terbuka, langkah anda lebih ringan anda harus bisa bertanya. Anda harus berani bertanya.

Cobalah hal-hal baru setiap minggu

Tidak perlu hal besar untuk bisa menjadi besar. Terkadang, hal kecil justru bisa menciptakan sesuatu yang besar. Pelajarilah ketrampilan-ketrampilan baru setiap minggu sebelum anda berniat mengatakan “Tidak”.

Latihan pola pikir Anda

Ketika ketakutan menyerang anda, tanyalah diri anda. Mengapa anda harus takut untuk melakukan itu? Lalu biarkan pikiran buruk itu berlalu. Ketika anda ditantang melakukan sesuatu yang sebenarnya akan anda jawab “Tidak”, berpikirlah sejenak. Apakah anda takut pada hal kecil seperti ini? Jawaban “Ya” dan hidup anda akan berubah.

Kegagalan dan kesalahan bukan akhir dari segalanya

Yakinlah bahwa jika anda melakukan kesalahan karena sesuatu yang baru lantas anda belajar dari kesalahan itu, anda akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Kagagalan dan kesalahan bukanlah akhir, melainkan awal untuk menjadi seseorang yang lebih tahu dan berpengalaman.

Setelah saya memberikan ilustrasi fiktif diatas, kini saya akan memberikan contoh fakta yang memang benar-benar terjadi pada seseorang yang mungkin kita telah sama-sama tahu.

Anda pasti pernah mendengar nama ‘Bob Sadino’ bukan? Ya, beliau adalah pendiri serta pemilik tunggal perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan yang berlabel “Kem Chicks”. Berikut adalah cerita singkat mengenai Bob Sadino.

Pengusaha sukses bidang pertanian Bob Sadino mengajak generasi muda untuk tidak takut mencoba sesuatu hal yang baru.

"Ingin sukses jangan takut mencoba," kata Bob di hadapan puluhan peserta acara Launching Program CSR "Go Entrepreneur" oleh Perum Pegadaian bertempat di Mall Botani Square, Sabtu.

Menurut Bob, kunci sukses adalah tidak mudah menyerah dan jangan takut untuk gagal.

"Karena dengan kegagalan kita bisa belajar, bagaimana ke depan lebih baik lagi. Jadi, jangan pernah takut untuk gagal," kata entrepreneur sukses asli Indonesia ini.

Di hadapan ratusan pengunjung Mall Botani Square, Bob yang tampil dengan gaya khasnya baju kemeja putih kotak-kotak dipadu celana jins pendek menyampaikan beberapa pengalamannya tentang memulai sebuah usaha tanpa harus menggunakan modal besar.

"Yang penting ada kemauan dan berani menerima kegagalan, semua usaha jenis apa pun akan tetap jalan. Usaha yang paling bertahan lama ada agropreneur," kata Bob.

Bob mengatakan semakin banyaknya minat generasi muda untuk berwirausaha dapat meningkatkan jumlah usahawan Indonesia yang saat ini hanya sebesar 1,8 persen dari total penduduk Indonesia.

Menurut Bob, usaha dijalankan dengan kesenangan bukan karena keterpaksaan. Tidak harus cerdas dan bekerja keras untuk menjadi pengusaha sukses, menurutnya seorang pengusaha harus bisa melihat peluang dan berani mengambil risiko.

Pendiri dan pemilik tunggal "Kem Chicks" (supermarket) ini pernah menjadi sopir taksi dan karyawan Unilever sebelum menjadi pengusaha.

Hikmah apa yang dapat kita ambil melalui penggalan pengalaman dari seorang Bob Sadino? Ya, kita jangan pernah untuk takut untuk mencoba hal-hal yang baru yang belum pernah kita alami sebelumnya. Saya tidak mengajak anda untuk selalu meng-iyakan segala sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu, tetapi saya mengajak anda agar anda tidak lagi ragu-ragu apalagi untuk sampai mengatakan tidak kepada hal yang baru. Tetapi hal baru yang saya maksud disini adalah hal yang positif tentunya. Jika anda mengatakan ‘iya’ kepada hal baru yang negatif, berarti anda tidak berpikir sebelum anda mengucapkan kata ‘iya’ terlebih dahulu. Jangan pernah takut untuk gagal, apalagi takut untuk mencoba. Karena kesempatan jarang datang untuk yang kedua kalinya.


Sumber                                :

Mengapa Manusia Tidak Pernah Puas

Posted by Kresno Setyoputro On 6:27 PM | 1 comment
Mengapa Manusia Tidak Pernah Puas?


Pernahkah anda ditanya dengan pertanyaan diatas? Atau paling tidak, pernahkah anda mendengar pertanyaan diatas? Lalu menurut anda, apakah jawaban yang sesuai dengan pertanyaan diatas?

Setiap makhluk hidup (kecuali tumbuhan) pasti memiliki hawa nafsu. Tuhan menciptakan makhluk hidup yang dapat digolongkan menjadi 3 golongan berdasarkan hawa nafsu. Golongan-golongan tersebut meliputi :
1.       Makhluk yang hanya memiliki akal namun tidak memiliki hawa nafsu
2.       Makhluk yang hanya memiliki hawa nafsu namun tidak memiliki akal
3.       Makhuk yang memiliki baik hawa nafsu dan akal

Makhluk yang pertama adalah makhluk-makhluk yang biasa kita sebut sebagai ‘malaikat’ atau makhluk-makhluk kasat mata lainnya. Makhluk yang kedua adalah hewan atau binatang. Mereka (hewan) bukan tidak memiliki akal, tetapi dalam kehidupannya sehari-hari mereka lebih mengandalkan nafsu atau ‘insting’ mereka. Tidak mungkin jika mereka (hewan) tidak memiliki akal dan pikiran. Jika mereka (hewan) tidak memilik akal dan pikiran, mereka tidak akan mungkin bisa bertahan hidup. Sedangkan kita (manusia) tergolong dalam golongan yang ketiga, yaitu makhluk yang memilik hawa nafsu serta akal dan pikiran. Kita adalah makhluk yang paling sempurna yang diberikan anugrah oleh Tuhan yang berupa akal pikiran dan hawa nafsu. Coba anda bayangkan ketika anda tidak diberikan hawa nafsu dan hanya diberikan akal serta pikiran saja. Contoh yang paling sederhana, anda tidak lagi memiliki nafsu makan. Anda pasti pernah merasakan perasaan yang biasa disebut ‘tidak nafsu makan’ bukan? Apakah rasanya enak? Menurut saya tidak. Selain itu jika kita tidak memiliki nafsu makan, maka anda bisa bayangkan tubuh anda akan kurus kering dan tipis seperti kayu (triplek). Tetapi coba pertanyaannya saya putar balik. Apakah hanya memiliki hawa nafsu itu enak? Menurut saya, hanya diberikan hawa nafsu memang lebih enak ketimbang hanya diberikan akal serta pikiran. Tetapi jika kita juga diberikan akal dan pikiran, kita pasti akan lebih bisa mengatur hawa nafsu yang ada dalam diri kita sendiri.

Suatu hari seorang teman bercerita kepada saya mengenai acara liburannya. Ia mengeluhkan bahwa orang tuanya selalu mengajaknya berlibur ke Hong Kong. Padahal ia sudah bosan liburan ke Hong Kong dan ingin berlibur ke negara lain. Mennaggapi ceritanya saya hanya bisa tersenyum dan saat itu saya merasa bahwa senyuman adalah jawaban yang paling baik. Namun, dalam hati kecil saya tercetus sebuah pertanyaan: Mengapa manusia tidak pernah puas? Dalam kasus teman saya ini, saya merasa bahwa bisa berlibur ke Hong Kong adalah suatu rahmat yang luar biasa. Tentu saja karena saya belum pernah pergi ke negara hongkong sekalipun. Pertanyaan ini telah lama saya pendam, akhirnya hari ini saya mendapatkan jawabannya. Walaupun mungkin tidak 100% terpuaskan, tapi jawaban ini cukup mengobati rasa ingin tahu saya yang terus-menerus minta dijawab.

Kehendak manusia selalu terarah kepada kebaikan yang tak terbatas. Tetapi selama manusia hidup, ia hanya akan menerima kebaikan yang terbatas saja. Karena manusia memiliki “kebebasan kehendak”, manusia tidak harus memilih yang terbatas itu. Kebaikan baru diterima sebagai kebaikan kalau manusia sudah mendapatkan kebaikan yang tidak terbatas.

Misalnya begini. Saya menginginkan sop kambing, lalu saya dihadapkan pada seratus menu lain yang bisa saya pilih. Bisa saja saat itu saya memilih nasi goreng atau gado-gado, bukannya sop kambing seperti yang saya kehendaki. Dalam contoh ini, makanan yang bisa saya pilih adalah pemenuhan kehendak saya yang baik, tapi terbatas. Sedangkan memilih untuk makan sop kambing atau gado-gado adalah kebebasan kehendak yang saya miliki.

Ketidakmampuan manusia untuk memenuhi kehendaknya untuk mendapatkan kebaikan yang tidak terbatas adalah penyebab mengapa manusia tidak pernah puas. Kalau begitu bukankah ketidakpuasan adalah manusiawi?

Ketidak puasan yang sifatnya sangat berlebihan akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kelicikan dan dapat menyeret kita ke dalam lembah dosa. Seperti contoh orang-orang yang sangat suka dengan kata ‘korupsi’. Mereka melakukan korupsi seperti sudah menjadi kebutuhan sehari-hari mereka, yang bila mana tidak terpenuhi saat itu juga, mereka akan merasakan penderitaan yang sangat amat parah. Mereka (para pelaku korupsi) melakukan korupsi bak melakukan ibadah atau sembahyang lima waktu, bahkan mungkin terbalik. Mereka melakukan korupsi lima kali sehari, tetapi sama sekali tidak melakukan ibadah atau sembahyang yang seharusnya dilakukan lima kali sehari. Mengapa mereka demikian? Apakah mereka melakukan korupsi karena mereka orang yang sangat miskin yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan uang gaji mereka? Atau mereka melakukan korupsi hanya karena hobi dan di saat ada kesempatan?

Menurut saya, mereka melakukan korupsi buakn karena mereka adalah orang yang sangat miskin. Mereka juga tidak melakukan korupsi hanya demi uang makan. Mereka bisa makan yang cukup atau mungkin lebih dari cukup dari uang gaji mereka. Tetapi mengapa mereka masih melakukan korupsi? Mereka melakukan korupsi hanya karena satu hal. Mereka melakukan korupsi karena mereka memiliki rasa tdak pernah puas yang sangat amat berlebihan. Saya tidak bicara bohong, tetapi memang kenyataannya seperti itu. Setiap ada proyek, uang anggaran proyek tersebut PASTI mereka ambil dan mereka masukkan kedalam kantong mereka sendiri. Kalau mereka melakukan korupsi dan mereka bermaksud untuk menyumbangkan uang hasil korupsi tersebut kepada orang-orang yang tidak mampu atau fakir miskin, mungkin itu masih bisa diterima oleh orang-orang, setidaknya bisa diterima oleh orang-orang fakir miskin yang menerima uang sumbangan tersebut. Apalagi jika mereka para koruptor yang melakukan tindak korupsi hanya memikirkan dirinya serta keluarganya sendiri. Saya rasa tidak akan ada satupun orang yang terima terhadap tindakannya tersebut, sekalipun sesama koruptor.

Pertanyaan ‘mengapa manusia melakukan korupsi?’ sudah terjawab. Jawabannya bisa dilihat dari dua hal yang mutlak, yaitu :
1.       Manusia memiliki sifat yang tidak akan pernah puas
2.       Manusia melakukan tindak korupsi karena ada kesempatan

Sebenarnya dua hal diatas dipengaruhi oleh satu hal yang sebenarnya tidak bisa di jelaskan secara ilmiah. Setiap dalam individu manusia pasti terdapat yang namanya ‘malaikat’ (berhubungan dengan pikiran yang baik-baik serta positif) dan ‘setan’ (berhubungan dengan pengaruh-pengaruh yang buruk serta pikiran yang negatif). Nah dengan kata lain, manusia akan melakukan tindak korupsi jika pikiran negatif dalam individu manusia tersebut lebih kuat daripada pikiran yang positif di dalam dirinya. Setelah pikiran negatif mereka menang, maka pikiran tersebut akan memacu sifat manusia yang tidak pernah puas dan pikiran tersebut juga akan memacu pemikiran manusia untuk mencari-cari kesempatan agar mereka bisa melakukan tindakan kejahatan tersebut.
Rasa puas manusia atau ambisi pada manusia, sangat berhubungan dengan kebutuhan manusia. Tingkat kebutuhan manusia sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam beberapa hal pencapaian manusia dapat berbentuk materi untuk sebagian dapat berbentuk non materi. Pencapaian akan materi yang kemudian biasa kita sebut dengan ambisi walaupun pencapaian dalam bentuk non materi juga akan dimungkinkan termotivasi akan ambisi tetapi pencapaian akan non materi biasa nya akan bersifat kepuasan batin atau mental sehingga tingkat pengukuran nya sangat subyektif tetapi pencapaian materi sangat tidak terukur sehingga akan muncul perilaku yang cenderung kompulsif dan tidak terpuaskan. Pembedaan tingkat pencapaian manusia biasanya digunakan sebagai tolak ukur kematangan atau kedewasaan akan kebutuhan dalam ilmu psikologi.

Manusia pasti akan selalu haus akan kepuasan. Coba anda lihat saja jika anda bekerja dengan gaji 1 rupiah, pasti ada akan menginginkan kenaikan gaji menjadi 2 rupiah. Tetapi jika awalnya anda memiliki gaji 2 rupiah, anda pasti akan meminta kenaikan gaji menjadi 4 rupiah. Pernahkah anda berpikir jika ketika gaji awal anda 2 rupiah dan anda meminta kenaikan gaji menjadi 4 rupiah, bagaimana perasaan anda ketika anda berada di posisi orang yang memiliki gaji awal 1 rupiah? Jabatan dan juga kebutuhan hidup yg lebih layak dan menurut saya itu wajar. Semua orang pasti ingin memiliki jabatan dan kebutuhan hidup yang enak serta layak. Tetapi pernahkah anda berpikir ketika anda menjadi orang yang jabatan serta kebutuhan hidupnya tidak enak dan tidak layak? Sudah seharusnya anda bersyukur!  Atau juga ketika kita berkeluarga pasti kita mengingkan yang terbaik untuk keluarga kita. Tentunya dengan kebutuhan materi yg lebih banyak. Tetapi bagi sebagian orang ada juga yang rela melepaskan kepuasan ini demi kepuasan spriritual dan itu tentu saja dapat diterima pula. Jadi sebenarnya rasa puas itu tergantung dari masing masing individual. Dan memang itu adalah hal yang wajar bagi setiap individu manusia.

Manusia memang memiliki kebutuhan hidup yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Tetapi perbedaan kebutuhan tersebut juga tidak bisa dijadikan hal yang mutlak untuk memiliki sifat tidak pernah puas yang berlebihan. Banyak orang-orang yang lebih tidak mampu dari kita tetapi memiliki keinginan yang lebih tinggi dari orang-orang yang jauh lebih mampu dari mereka. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ketidak mampuan mereka tersebut. Mereka hanya bisa bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada mereka, karena merekapun menyadari masih lebih banyak orang yang jauh lebih tidak mampu daripada mereka. Seharusnya kita para orang yang masih tergolong cukup mampu bisa mencontoh perbuatan yang baik dari mereka yang tidak jauh lebih tidak mampu dibandingkan kita. Kebanyakan dari kita, jika kita telah menjadi orang yang hidupnya telah berkecukupan (bahkan lebih) malah mencari kehidupan yang lebih dari itu. Bukannya saya menyalahkan anda karena anda mencari kehidupan yang lebih baik. Mencari kehidupan yang lebih baik adalah hak bagi setiap individu manusia di muka bumi ini. Tetapi saya hanya menyarankan agar anda melihat orang-orang yang posisinya jauh dibawah anda, sehingga anda bisa mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan kepada anda.

Jika pertanyaan yang paling pertama diganti menjadi ‘kapan manusia bisa puas?’, kira-kira apa jawabannya menurut anda? Menurut saya, pertanyaan itu sangat simpel sekali untuk dijawab, dan jawabannyapun sangat simpel. Menurut saya, manusia akan mencapai kepuasan saat manusia tersebut meninggal dunia. Mengapa demikian? Saya tidak perlu memutar otak untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Mudah saja, karena sifat tidak pernah puas di dalam diri manusia adalah alami dan wajar, sehingga untuk menghilangkan sesuatu yang alami pada diri anda, anda harus meninggal dunia terlebih dahulu. Seperti contohnya, anda semua pasti memiliki rasa lapar bukan? Bagaimana untuk menghilangkan rasa lapar tersebut? Pasti jawabannya adalah makan.
Memang, makan adalah cara untuk menghilangkan perasaan lapar yang ada di dalam diri anda. Tetapi apakah setelah makan, lantas 1 minggu ke depan anda tidak merasakan lapar dan tidak perlu makan lagi? Saya rasa itu adalah hal yang tidak mungkin. Karena menurut pengalaman saya sendiri, saya hanya kuat menahan rasa lapar 3 hari 2 malam tanpa memakan makanan pokok seperti nasi, roti, kentang, bubur, dan sebagainya. Itupun saya masih menyelingi dengan minum air putih yang sangat banyak dan minuman-minuman penunda lapar.

Dari pengalaman saya di atas, saya menyimpulkan bahwa sesuatu yang alami bisa dihilangkan secara sementara, tetapi tidak bisa dihilangkan secara mutlak. Jika saya ingin menghilangkan rasa lapar secara mutlak dan abadi, maka mau tidak mau saya harus meninggal dunia terlebih dahulu, karena sesuatu yang alami tidak bisa dirubah apalagi dihilangkan.

Jadi, sebenarnya perasaan tidak pernah puas dalam diri manusia adalah alami dan tidak dapat dihilangkan. Jadi jika anda bertanya kapan manusia akan berhenti memiliki perasaan yang tidak pernah puas, jawabannya adalah ketika manusia tersebut berhenti bernafas dan meninggal dunia.

Setelah anda membaca tulisan di atas, pasti anda berpikir bahwa pertanyaan ‘mengapa manusia tidak pernah puas?’ memiliki konotasi yang negatif bukan? Menurut saya pertanyaan itu memiliki konotasi dan maksud yang negatif. Tetapi setelah saya ingat-ingat, saya juga pernah mendengar dan di nasehati oleh teman serta orang tua saya dengan menggunakan kalimat ‘jangan cepat puas!’. Mungkin maksud dari teman-teman dan orang tua saya dalah baik, tetapi setelah saya pikir kembali, mereka dengan tidak sadar telah menyuruh atau memerintah saya untuk lebih mengedepankan sifat alami setiap manusia, yaitu tidak pernah puas.

“Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya”. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Steve Jobs dalam acara wisudanya di Stanford University.

Sebenarnya saya setuju dengan pendapat diatas, tetapi tidak setuju secara seratus persen. Steve Jobs mengatakan bahwa kita dapat memperoleh kepuasan sejati bila kita mengerjakan sesuatu yang hebat. Tetapi secara tidak langsung, beliau juga mengatakan bahwa kita harus terus mencari sesuatu tersebut. Dalam proses ‘terus mencari’ tersebut, bukankah sama halnya dengan menggunakan sifat alami manusia, yaitu tidak pernah puas?

Ketika pendapat Steve Jobs diatas dihubungkan dengan para koruptor di tanah air, ternyata memang memiliki kesamaan. Artinya, pendapat dari Steve Jobs diatas memang begitu adanya yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa hubungannya para koruptor di tanah air dengan pendapat Steve Jobs diatas?

Steve Jobs mengatakan “… Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda menemukannya.” Dan benar saja, para koruptor terus melakukan tindak korupsi dan tidak pernah menyerah sampai hatinya mengatakan bila koruptor tersebut telah menemukan yang ia cari (dengan kata lain memperleh kepuasan). Tetapi seperti yang saya katakan sebelumnya, manusia tidak akan memperoleh kepuasan secara abadi kecuali manusia tersebut telah meninggal dunia. Jadi dengan kata lain, para koruptor tersebut terus melakukan tindak korupsi sampai ia meninggal dunia, karena perasaan puas adalah perasaan atau sesuatu yang alami. Sesuatu yang alami tidak akan pernah berubah apalagi hilang secara mutlak kecuali jika manusia atau individu tersebut belum meninggal dunia (dalam hal ini adalah perasaan tidak pernah puas).

Sifat kita yang tidak pernah puas bisa digambarkan sebagai air yang dikeluarkan oleh mata air yang berada di pegunungan. Air yang dikelaurkan oleh mata air di gunung tersebut akan mengalir sampai ke laut. Mengalir dari gunung sampai ke laut, dan dari laut air tersebut akan menguap karena panasnya matahari dan menjadi awan di lapisan ozon. Setelah menjadi awan, air itu akan tertiup oleh angin dingin dan akhirnya sampai di daerah pegunungan. Karena tertiup angin dingin, awan tersebut menurunkan air dan akhirnya terjadilah proses yang biasa kita sebut hujan. Lalu kemana air tersebut akan pergi? Air itu akan meresap ke tanah dan akan dikeluarkan lagi oleh mata air yang ada di pegunungan. Itu adalah sistem dari siklus air. Mengapa sifat kita yang tidak pernah puas saya gambarkan sebagai siklus air? Air memiliki siklus yang tidak akan pernah berhenti kecuali tiba saatnya kiamat ‘kubra’ (besar), sama seperti hawa nafsu kita. Kita tidak akan pernah mencapai kepuasan abadi, kecuali kita telah meninggal dunia atau wafat.

Seperti yang telah saya katakan, kita (manusia) adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal dan pikiran serta hawa nafsu. Tetapi bagaimana dengan hewan yang hanya memiliki hawa nafsu saja? Apakah mereka memiliki sifat yang tidak pernah puas juga? Sebenernanya hewan juga memiliki sifat yang tidak pernah puas pula. Kita ambil contoh, anda tahu tikus? Tikus adalah hewan pemakan segalanya atau yang biasa disebut omnivora bukan? Tikus adalah pemakan sampah (barang tidak terpakai), bisa juga memakan keju, atau pemakan buah (biasanya labu), atau bahkan kita tidak jarang mendengar bahwa tikus juga sering memakan kabel-kabel atau serat optik. Tetapi kita sebagai manusia, tidak bisa disamakan dengan tikus. Kita bahkan lebih rakus dari tikus! Dana atau biaya apa saja dapat kita ambil untuk membelanjakan atau membeli apa saja.

                Jadi seperti yang saya telah katakan sebelumnya, ketidak puasan yang sifatnya sangat berlebihan akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kelicikan dan dapat menyeret kita ke dalam lembah dosa. Karena sifat manusia yang tidak pernah puas sama saja dengan sifat kita yang tidak pernah bersyukur. Diberi satu oleh Tuhan, kita pasti akan meminta dua. Diberi dua oleh Tuhan, kita pasti akan meminta 4, begitu seterusnya. Jadi, alangkah baiknya bila kita mencoba untuk belajar bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan ke kita. Jangan menjadi orang yang tidak pernah puas. Bila anda menjadi orang yang tidak pernah puas, niscaya Tuhan akan menarik anugrah yang telah diberikan ke kita. Belajarlah menjadi orang yang pandai bersyukur!



JADILAH INDVIDU YANG PINTAR BERSYUKUR


Sumber                                :