Monday, April 1, 2013

Induktif

Posted by Kresno Setyoputro On 1:14 PM | No comments
Paragraf Induktif adalah merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif.

Bentuk-bentuk penalaran Induktif :

Generalisasi 
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contohnya :
- Luna Maya adalah bintang film dan iklan, dan ia berparas cantik.
        - Revalina. S. Temat adalah bintang film dan iklan, dan ia berparas cantik.
- Generalisasi: Semua bintang film dan iklan berparas cantik.
Pernyataan “Semua bintang film dan ikalan berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya:
Bella juga bintang film, tetapi tidak berparas cantik.
 
  1. Analogi
    Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yangmempunyai sifat yang sama.
    Analogi mempunyai 4 fungsi,antara lain :
    1. Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan
    2. Meramalkan kesamaan
    3. Menyingkapkan kekeliruan
    4. Klasifikasi
    Contoh analogi : Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
  2. Hubungan Kausal
    Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
    Macam hubungan kausal :
    a). Sebab- akibat.
    Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.
    b). Akibat – Sebab.
    Bobi tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.
    c). Akibat – Akibat.
    Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah. Contoh Kausal : Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.
 
 Source :

http://rhezajack.wordpress.com/2013/04/01/induktif/ 

Deduktif

Posted by Kresno Setyoputro On 1:03 PM | No comments
Paragraf deduktif adalah paragraf yang ide pokok atau kalimat utamanya terletak di awal paragraf dan selanjutnya di ikuti oleh kalimat kalimat penjelas untuk mendukung kalimat utama. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional,instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahuluharus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian dilapangan.

Jenis-jenis penalaran deduktif :

Silogisme Kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya Menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor. Contoh : Premis Mayor : Tidak ada manusia yang abadi Premis Minor : Socrates adalah manusia Kesimpulan : Socrates tidak abad.

Silogisme Hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Menurut Parera (1991: 131) Silogisme hipotesis terdiri atas premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Akan tetapi premis mayor bersifat hipotesis atau pengadaian dengan jika … konklusi tertentu itu terjadi, maka kondisi yang lain akan menyusul terjadi. Premis minor menyatakan kondisi pertama terjadi atau tidak terjadi.  

Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotesis: 

1. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti: Jika cuaca panas, saya memakai payung. Sekarang cuaca panas. Jadi saya memakai payung.

2. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya, seperti: Bila hujan, bumi akan basah. Sekarang bumi telah basah. Jadi hujan telah turun. 

3. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti: Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.

Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa, Jadi kegelisahan tidak akan timbul. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti: Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah. Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.

Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain. Contoh : Premis Mayor : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor. Premis Minor : Nenek Sumi berada di Bandung.  Kesimpulan : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
 
 
Source :