Friday, October 29, 2010

BERAS NASI

Posted by Kresno Setyoputro On 8:55 AM | No comments
BERAS NASI

Setiap hari kita memakan nasi, khususnya penduduk INDONESIA. Nasi berawal dari padi,yang
mayoritas masyarakat Indonesia menanam padi,Sebelum padi di cocok tanamkan oleh masyarakat setempat, benih padi dan tempat yang mau kita menanam padi harus kita olah terlebih dahulu, misalnya menunggu benih yang kita tanam kan dalam fase yang subur dan bebas dari hama tumbuhan padi itu
sendiri.

Penanaman padi itu sendiri mayoritas banyak kita jumpai di daerah pedesaan. Sebut saja
contohnya di Desa Baru Pulau Sangkar.kab.kerinci.provinsi jambi. Sebelum kita memasuki pedesa’an tersebut kita sudah di suguhkan dengan tanaman Padi yang luas menghampar. Disana masyarakat setempat masih memakai pengolahan Padi secara tradisional.contoh:pemisahan padi dengan jeraminya,dengan cara menghempaskan Padi yang belum terpisah dengan jerami ke potongan kayu yang dipaku jarang-jarang.dan ada juga yang sudah mulai memakai alat bantu mesin dalam mengolah tempat yang akan kita Tanami Padi.contoh:mesin untuk membajak.

Sebelum padi di panen kita harus memastikan bahwa padi memang sudah berisi dan sudah
mencapai masa pemanenan itu sendiri,yang berkisar sekitar 3-4 bulan.setelah di panen padi harus kita panaskan terlebih dahulu,baik dengan bantuan cahaya ultraviolet/dengan mesin pemanasan.setelah proses pemanasan selesai padi bisa kita olah menjadi beras.pada sekitar abad 17-18 padi diproses dengan cara di tumbuk dengan kayu,pada zaman modern sekarang ini padi di giling dengan mesin penggilingan padi.dan biasanya penduduk setempat menggiling hasil panen padinya dengan langganannya untuk menggiling padi dan tarif nya berkisar 1kaleng beras/16kg beras ongkosnya di ambil sekitar 1,4kg untuk penggilingan padi tersebut.
Setelah padi di olah menjadi beras,kita bisa memasak nasi dengan cara tertentu,contohnya 200 gr beras 300 gr air dan di bantu dengan alat pemanas.bisa dengan listrik dan kekuatan panas dari api.setelah semua langkah-langkahnya terpenuhi baru menjadi nasi yang setiap hari kita konsumsi.dan banyak sekali masyarakat yang berkecimpung dalam bisnis Beras dan Nasi.misal:warung nasi dan lain sebagainya.dan nasi itu sendiri bisa lagi kita memberikan nilai lebih,dengan cara kita mengolah nasi itu sendiri dengan menambahkan bumbu-bumbu dan rempah-rempah lainnya.conto:nasi goreng,nasi uduk dan lain-lain.

Di Indonesia bisa kita simpulkan bahwa Beras merupakan patokan dari harga sembako.mengapa demikian? Coba kita lihat apabila Beras harganya naik maka harga sembako yang lainnya merangkak naik, hal itu disebabkan Beras merupakan kebutuhan pokok.dalam hal ini pemerintah memberi peluang bagi lapisan masyarakat bawah yang apabila Beras harganya naik aka nada namanya RASKIN dan BULOG.

Dalam sudut pandang saya bahwa Beras merupakan salah satu makanan pokok yang di konsumsi oleh masyarakat tertentu dengan terus menerus.karna di dalam kandungan Beras itu sendiri mengandung yang baik bagi tubuh guna menjadi energi untuk aktifitas sehari-hari.dan Beras juga lebih baik di konsumsi dari pada makanan lainnya,yang apabila kita bandingkan misalnya:sesuap Nasi = 1 piring mi instan.

Sebagai seorang yang terkelilingi oleh para petani dan masyarakat ekonomi menengah ke
bawah mungkinlah kita bisa lebih menghargai sedikit hasil kerja keras saudara-saudara kita.Indonesia import beras? Mengapa Indonesia sampai mengalami kekurangan beras?
Dan Mengapa mahalnya harga beras yang beredar di kalangan masyarakat?

Beberapa pertanyaan lagi yang membuat pemikiran menerawang Negeri yang subur ini telah
mengalami sesuatu pemikiran yang berada jauh di luar prediksi para profesor-profesor hebat!.
Semua yang dengar berita bahkan sampai kepalapun geleng-geleng akan kasus ini, memang disatu sisi kelangkaan beras yang dialami oleh masyarakat di beberapa daerah ini, bagaikan benang kusut yang sulit untuk diurai.

Satu sisi memang semua komponen yang berkecimpung di dunia per-beras-an sudah berusaha menunjukan kinerja yang maksimal, tapi yang dinilai oleh khalayak ini adalah sebuah realita atau kenyataan yang terjadi.

Terpaut dari itu semua, sisi lain adalah dari cara kita menghargai beras itu sendiri yang setiap hari dikonsumsi sebagai menu bahanan makan pokok oleh sebagian masyarakat.

Memang ini sudah menjadi polemik bersama, tetapi setidaknya sebelum kita merubah karakter orang lain, lebih “BIJAKSANA” lagi jika kita merubah karakter dan paradigma kita terlebih dahulu yang bersifat negatif tentang makna ”sebulir beras”. Apakah kita selama ini sadar akan perbuatan kita?


Perjuangan yang keras dialami oleh para petani, setetes bahkan bertetes-tetes keringat menjadi seolah tak berharga, belum beberapa sisa harta yang keluar untuk membiayai tanaman padi untuk tumbuh subur, jauh dari hama atau wereng.

Saat mendulang panen, dan saat itu pula petani mensukseskan munculnya “berbulir-bulir” padi di atas batang yang seolah tak mampu untuk mengangkatnya sehingga tunduk, lesu dan siap untuk dipotong, itu jauh lebih berat perjuangannya dibandingkan dengan perlakuan kita terhadap ”berbulir-bulir padi” tersebut.

Kalau berbicara tentang mendulang panen memang bukan kepalang cerita yang diangkat, tetapi setelah diterima di pasaran dengan harga yang lumayan (seakan-akan beras menjadi sebuah barang yang murah) karena memang jumlahnya melimpah “saat panen” dibanding pengeluaran yang diperlukan untuk mendulang panen.

Sekarang yang kita bicarakan bukan berhubungan dengan hal ini, tetapi kita berbicara tentang cara atau perlakuan kita terhadap berbulir-bulir beras yang telah hadir dan menjumpai kita di dunia, banyak sekali beras yang kemudian disulap menjadi nasi terbuang sia-sia, dan perlakuan tersebut seolah-olah kita tidak pernah merasa berdosa setelah melakukan perbuatan itu.

Terlalu banyak warung, depot, atau lebih keren lagi jika contohnya adalah sebuah restoran dengan kelas wahhh!, banyak para pengunjung (bisa dikatakan pada saat itu ”lapar” lagi butuh energi, sehingga harus diisi dengan energi baru yang tersimpan dalam berbulir-bulir beras tersebut), termasuk disaat kita makan di rumah.

Saat yang sama banyak diantara mereka hanya memakan sebagian nasi yang disajikan oleh
pemilik warung, sehingga yang sebagian lagi menjadi “rezeki” binatang-binatang yang memang pada saat itu bernasib beruntung diberi pemilik warung.

Sekali-dua kali, sebulir dua bulir, sepiring dua piring, sekilo dua kilo, jika dikumpulkan satu sama lain bisa sampai terkumpul beberapa kwintal bahkan berton-ton nasi yang terbuang sia-sia.

Itu baru satu warung, jika dikumpulkan sampai beberapa warung, beberapa depot, beberapa nasi (berbulir-bulir beras) yang terbuang sia-sia, hal yang sama tentu juga dialami oleh restorant yang berkelas wah!! Itu, termasuk nasi yang terbuang sia-sia di rumah.

Itu baru sehari, bagaimana jika sebulan, setahun, se-abad! (kalkulatorpun sudah tidak cukup
menyediakan angkanya jika dihitung secara “Al-Jabar” matematis)

Pembicaraan ini memang sangat menarik untuk didiskusikan, mengingat hal itu tidak dilakukan oleh segelintir orang, tapi ratusan bahkan ribuan orang yang bisa dikatakan tidak menghargai “makna dari kehadiran sebulir beras” (maaf saya menyebut seperti itu).

Saat kondangan di kampoeng para undangan enggan menghabiskan sepiring nasi yang telah
disuguhkan pemilik hajat (entah saat itu lapar atau kenyang, yang penting saat itu mereka banyak yang tidak menghabiskan nasi yang disuguhkan), tidak tahu apa yang ada di benak orang-orang saat itu.

Apakah takut diberi gelar yang macam-macam?

Memang tajamnya lidah bagaikan tajamnya pedang yang bercabang, tapi apakah dari sebuah
gengsi itu kita telah mensia-siakan kehadiran berbulir-bulir beras yang telah sukses dihadirkan para pemilik sawah, yang lebih heran lagi, mereka juga ikut berperan dalam tim sukses menghadirkan berbulir-bulir beras dari sawah dengan memakan cukup waktu dan tenaga (yang bisa dibilang separuh hidupnya “dari 24 jam yang ada” untuk bekerja di ladang/sawah) tetapi mereka juga yang telah mensiasiakan kehadiran beras di dunia ini.

Hal ini mungkin saja agak wajar, pendidikan serta pengetahuan yang minim tentang perlakuan
pasca panen dari sebulir beras yang mereka kuasai. Kita tengok saat adanya undangan perkawinan atau pesta besar yang disajikan dengan prasmanan, dihadiri oleh para pejabat teras kabupaten atau propinsi bahkan skala nasional, yang datang bukan orang biasa tetapi orang luar biasa yang punya pangkat dan jabatan serta mempunyai gelar akademik yang sulit untuk diraih dari sebuah universitas atau institut, mereka itu mempunyai pemikiran yang dasyat untuk perkembangan bangsa dan negara.

Tapi apa perlakuannya dengan “berbulir-bulir beras” tadi. Mereka sadar dan saat itu juga sengaja mengambil aneka makanan yang disajikan oleh catering tetapi mereka dengan sadar dan sengaja pula meletakkan seenaknya di bak sampah.

Perlakuan ini bagi sebagian orang sudah menjadi biasa bahkan tradisi dengan berbagai dalih
apapun, perbuatan tersebut tetap disalahkan.

Karena kita berbicara dalam konteks beras, dalam agama telah disebutkan “bahwa berkah sebuah makanan terdapat pada semua nasi yang ada di piring (tempat apapun yang dipakai saat itu), mungkin juga berkahnya itu terdapat di sebulir nasi yang ada di bulir penghabisan”.


Dalam tuntunan itu sudah jelas dan gamblang bahwa kita ditekankan untuk mengambil makanan secukupnya, sesuai dengan kadar yang bisa ditampung oleh perut.


Seandainya sebulir beras itu bisa berbicara, mungkin dia akan bangga, tertawa terbahak-bahak atas
suksesnya dia muncul di planet ini.


Mereka telah membanggakan seseorang (petani) yang telah menyediakan lahan untuk tumbuh dan berkembang, untuk kemudian dirawat, dipupuk, dijaga serta mengulitinya sehingga siap saji mendampingi berbagai aneka hidangan.


Mereka (beras) bahkan akan bertambah bersyukur lagi karena dihadirkan oleh ALLAH SWT untuk memuaskan makhluk-makhluk yang sempurna penciptaan-Nya di dunia ini.
Dengan bangga mereka akan sombong kepada makhluk-makhluk yang hidup di bumi (yang saat itu menganggap padi menjadi makanan pokok) bahwa akulah yang membuatmu semakin berenergi, bergairah kerja dan kuat menghadapi kerasnya kehidupan.


Dengan angkuh pula mereka berkata : “Bagaimana seandainya tidak ada aku di dunia ini, mungkin saja kamu akan secepat mungkin kembali ke hadirat-Nya”.

Seiring dengan kebiasaan atau tradisi orang–orang yang hidup di sekitar kota ini “kalau tidak
makan nasi namanya bukan makan, meskipun sudah ngemil macam-macam seakan-akan kita wajib a’in untuk makan sepiring nasi. Tetapi kenapa kita belum sadar akan kehadiran sebulir beras dihadapan kita

Dan apa yang terjadi jika saat itu sebulir beras tersebut tidak kita makan, sama nasibnya pada diri kita jika kita tidak berguna (min. tidak bisa membantu) bagi lingkungan kita, masyarakat, keluarga atau orang-orang terkasih (misalnya : sanak saudara dan famili kita di rumah).


Atau lebih luas lagi, jika kita tidak berguna bagi bangsa, negara lebih-lebih pada Agama, kita hanya bisa meratapi, menangis, bersedih dan lebih-lebih (maaf) melakukan hal-hal yang bisa diharamkan oleh agama atau ditentang oleh adat yang berlaku.


Mungkin sama seperti itulah gambarannya jika sebulir beras yang telah mampir sebentar di dunia ini kemudian terbuang dengan sia-sia yang seharusnya mampir untuk beberapa lama pada tubuh sehingga menjadi daging, energi atau yang lain.


Tetapi banyak diantara kita tidak menghargai “makna dari kehadiran sebulir beras” tersebut.


Kembali ke pertanyaan awal bahwa, Mengapa Indonesia akan import beras?, Mengapa Indonesia kekurangan beras? Mengapa Harga beras yang beredar di kalangan masayarakat, mahal?


Pertanyaan ini memang sungguh luar biasa!, ini siapa yang disalahkan?, seakan-akan ada beberapa komponen elemen masyarakat telah melakukan kesalahan yang sangat fatal…!, sehingga berakibat buruk bagi pendistribusian beras yang terjadi di lingkungan kita.


Lebih afdhol lagi kita menghindari saling tuduh, satu sama lain, kita coba untuk memperbaiki sifat dan karakter yang berkembang dan mengakar pada tubuh kita.


Dengan adanya isu kelangkaan beras (bahkan sekarang sudah tidak menjadi isu lagi) dan harga mahalnya beras dipasaran kita wajib bertanya-tanya dengan apa dan bagaimana kondisi yang terjadi dengan bangsa kita, disamping beberapa bencana yang telah singgah di bumi pertiwi ini, dan jawabannya berada di lubuk hati yang paling dalam pada diri saya dan anda semua.


Dan kita sangat berharap pihak pemerintah sebagai komponen utama tidak setengah-setengah dalam penuntasan kasus ini, tentunya pemerintah juga mengharapkan dukungan dari masyarakat.


Bumi Indonesia telah mewariskan tanah yang subur sekali, dan sudah selayaknya kita mewariskannya kepada generasi kita selanjutnya. (karena bukan kita penghuni tunggal bumi pertiwi ini tetapi masih teramat banyak penerus kita yang akan lahir) Bagaimana cara kita bersyukur! Anda semua lebih paham dan hafal untuk menterjemahkannya!.


Dan marilah sama-sama kita melestarikan dunia yang kita cintai ini.


Berikut ini macam-macam olahan nasi penduduk Indonesia: 

1.Nasi Tumpeng 

Tumpeng merupakan sajian nasi kerucut dengan aneka lauk pauk yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu). Tumpeng merupakan tradisi sajian yang digunakan dalam upacara, baik yang sifatnya kesedihan maupun gembira.

Tumpeng dalam ritual Jawa jenisnya ada bermacam-macam, antara lain : tumpeng sangga langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono dan Tumpeng Robyong. Tumpeng sarat dengan symbol mengenai ajaran makna hidup. Tumpeng robyong disering dipakai sebagai sarana upacara Slametan (Tasyakuran). Tumpeng Robyong merupakan symbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk ribyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang.

Pada jaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Nasi putih dan lauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik, yaitu:


Nasi putih: berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapatmenyembah kepada Tuhan. Juga, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.


Ayam: ayam jago (jantan) yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan symbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk (yang dilambangkan oleh, red) ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.


Ikan Lele: dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan banding atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan symbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.


Ikan Teri / Gereh Pethek: Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.


Telur: telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong – sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut
melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.


Sayuran dan urab-uraban: Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung symbol-simbol antara lain: kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem, taoge/cambah yang berarti tumbuh,
kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/innovative, brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya,
cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya.

Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.

Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul). Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara. Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga. Di mana pun orang berada, meski harus merantau, harus lah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya.

Mungkin sebaiknya, adakan selamatan dan buatlah nasi tumpeng di Istana Negara, dan Bapak Presiden dapat menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang terutama para pejabat, tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat.

Dari semua jenis kuliner khas Asia, ada satu masakan yang dari sejarahnya telah sedemikian
mengakar, yakni nasi goreng. Masakan yang dikalangan penggila kuliner disebut nasgor saja ini, memiliki sejarah panjang. Masakan ini dipengaruhi kebiasaan di China sekitar 400 tahun sebelum Masehi yang suka membuang nasi sisa hari sebelumnya. Nasi sisa tapi belum basi itu kemudian diolah dengan mencampurkan aneka bumbu dan digoreng.

Sekarang nasgor bukan “hak prerogatif” masyarakat China, tapi telah menyebar ke seantero dunia, terutama Asia. Di setiap negara yang konsumsi pokoknya nasi, nasgor bahkan telah menelusup dan berpenetrasi dengan budaya kuliner setempat dimana dia hidup. Lihat saja di Indonesia, mulai dari kaki lima hingga hotel berbintang, nasgor selalu ada. Maka jangan heran kalau nasgor sering mejeng bareng menu ‘canggih’ macam steik atau barbeque di sebuah hotel mewah. Atau di warung kelas kaki lima di pinggir jalan.


Nasi Goreng

Uniknya, meski nasi goreng mengalami aneka modifikasi dalam penyajiannya, sepanjang
bahannya nasi ditambah aneka bumbu dan digoreng, namanya tetap nasi goreng. Restoran di kota-kota Belanda menyajikan menu ini dengan nama “Nasi Goreng” bukan dengan bahasa Belanda atau Inggris. Nasgor juga jenis makanan yang demokratis, karena cocok-cocok saja dimakan kapan pun. Untuk makan pagi, makan siang atau makan malam sepanjang disajikan hangat-hangat saat asapnya masih mengepul.

Karena demokratisnya itu, semua orang boleh memodifikasinya. Jangan kaget kalau bermunculan aneka jenis nasgor. Mulai dari yang tradisional seperti nasi goreng kambing, nasi goreng pete, atau nasi goreng Jawa, atau nasi goreng ampela ati. Sampai nasi goreng ‘modern’ seperti nasi goreng strawberry, nasi goreng nanas, nasi goreng gila, nasi goreng keju, nasi goreng sosis dan masih banyak lagi.

Bahkan kerapkali orang menyandingkan nasi goreng dengan menu ala western. Dalam resepsi atau pesta yang sajiannya dalam bentuk prasmanan (self service) , banyak orang mengambil setangkup nasi goreng, ditambah sepotong steik, sup kacang merah, lalu ditambah segelas jus. Rasanya? Cocok-cocok aja tuh..

Ratih, yang aktif menulis tentang kuliner di blog pribadinya, mengatakan nasgor menjadi menu
pelarian, “Kalau sedang malas masak, terutama buat sarapan suami, nasgor jadi pelarian. Caranya kan gampang. Tinggal tumis bawang merah dan cabai, diaduk sama nasi ditambah sedikit kecap dan garam. Jadi nasgor, paling saya tambahin telor mata sapi. Suami senang-senang saja.” katanya sembari tersenyum.

Bagi Ratih, dan mungkin kebanyakan orang di berbagai daerah, nasgor seakan menjadi entitas lokal. Ia menyatu dalam keseharian. Meski sekali lagi seperti yang telah disebut di atas, sepanjang bahannya nasi, bumbu dan digoreng, namanya ya.. nasi goreng dan tetap disukai.

Nasgor Centil

Sesuai dengan tempatnya hidup dan bekembang, nasgor banyak mengalami modifikasi.
Baik soal rasa maupun bahan pelengkapnya. Nasi goreng Jawa rasanya lebih manis. Rasa manis itu biasanya berasal dari kecap yang diberi agak banyak. Nasgor ala Jawa Timur-an rasanya sedikit lebih pedas dan sering ditambah sambal petis sebagai pelengkap. Di Padang, nasgor juga dibuat dengan rasa agak pedas ditambah aneka sayuran seperti toge dan sawi yang disiwir-siwir.

Yang paling masif dan tentu menggambarkan pluralitas penikmatnya, adalah di kawasan Jakarta. Boleh dibilang malah, Jakarta adalah surganya pecinta nasgor. Barangkali Cuma menu nasgor saja demikian mendiaspora di pelosok-pelosok. Mulai dari warung kaki lima di perempatan lampu merah, kedai atau kafe sampai restoran kelas atas.

Oleh karena beragam dan pluralitasnya warga Jakarta itulah, nasgor pun tersedia dengan aneka macam gaya. Gaya lama identk dengan nasgor biasa yang dijual pedagang nasgor keliling atau kaki lima. Sementara nasgor gaya baru umumnya lebih ‘centil’ yakni ditambah pelengkap seperti strawberry atau nanas. Bagaimana mungkin rasa buah-buahan bisa menyatu dalam nasgor? Bisa saja..karena ternyata bukan rasa buah itu yang berusaha menyatu, melainkan rasa nasgornya yang seolah ‘membuka diri’. Jadi perpaduan keduanya menghasilkan rasa baru yang lebih menggigit. Dan tentu saja Maknyus!

Banyak ‘kecentilan’ lain yang ditawarkan nasgor di berbagai restoran atau warung makan. Sekarang tentu tak sulit mencari nasgor sosis, nasgor seafood, nasgor keju, atau nasgor ‘awut-awut’. Nah yang disebut terakhir ini bisa dibilang nasgor eksperimen, karena pembuatnya bereksperimen mencampurkan aneka bahan seperti potongan bakso, sosis, ampela ati, daun sawi yang kemudian di awut-awut bersama nasgor. Rasanya? Bener-bener semrawut! Tapi ueenak…

Nasgor memang disukai aneka kalangan, mulai dari kalangan bawah sampai yang berdasi. Tak heran kalau sampai Presiden Barack Obama saat menelepon presiden SBY bilang, “ Saya kangen nasi goreng…!”


SUMBER

http://www.kabarinews.com/article.cfm?articleID=32728
http://hmcahyo.wordpress.com/2009/05/01/opini-makna-kehadiran-sebulir-beras/
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3149454



















0 comments :

Post a Comment